Linux dan Warnet di Indonesia

Apa itu Linux? Sebagian besar pengguna komputer di Indonesia tidak mengenal sistem operasi ini. Kemudahan mendapatkan software bajakan dan kurangnya dukungan yang berarti dari pemerintah merupakan tantangan terbesar bagi Linux dan sofware open source lainnya untuk berkembang di Indonesia. Kebiasaan menggunakan software yang mereka sudah sangat familiar karena telah terbiasa akibat kurikulum yang lebih berat ke produk tertentu dan kemudahan mendapatkannya (hal ini terjadi karena cukup murah dan gampangnya versi bajakan (Rp.10,000,-/keping) dari produk yang mereka gemari) membuat mereka enggan…

IGOS Keblinger?

Setelah gagal dengan proyek “Warung IGOS” pemerintah bikin proyek baru “IGOS Desktop” namanya. Walaupun saya belum pernah “liat-liat” distro yang baru ini namun apakah masyarakat akan percaya dengan hasil yang mereka dapatkan dari distro ini, apalagi untuk mendapatkan distro ini kita harus membayar sampai Rp 449.000,- terlalu tendensius apalagi klo kita melihat distro sebelumnya yang terlihat asal kejar target, pemilihan “Fedora” yang walaupun bagus namun kurang mumpuni untuk digunakan di Warnet-Warnet yang menjadi alasan pembuatan distro ini karena membutuhkan spesifikasi…

Berandai andai II

Setelah cukup lama tidak berandai-andai, kembali kali ini saya duduk termenung sambil menatap sepinya linux.or.id belakangan hari ini. Apakah eforia orang-orang berbondong-bondong masuk linux.or.id cuma karena banyak isu sweeping beberapa waktu yang lalu? Apakah linux hanya sebatas pelarian? Apakah banyak warnet yg telah merelakan diri bermigrasi harus pasrah karena banyaknya saingan yg menggunakan os bajakan dan harus kembali ikut-ikutan kembali lagi membajak? Apakah ini, apakah itu, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang terlontar dikepala….. Sayapun kembali berandai-andai, ah seandainya saya…

How ‘IGOS’ are you?

Seandainya pemerintah telah melakukan negosiasi dengan perusahaan software tertentu untuk memberikan pemutihan terhadap jutaan komputer yang ada di instansi pemerintah dengan membayar sebesar 1USD per unitnya. Selain itu pemerintah juga menjadikan pemilik perusahaan software tertentu tersebut sebagai penasihat untuk urusan IT di Indonesia dan memberikan beberapa hektar tanah untuk digunakan sebagai Research Centernya di Indonesia. Seandainya, kebijakan ini bertolak belakang dengan program Pemerintah IGOS (Indonesia Goes Open Source). Tatkala masyarakat dituntut untuk lebih memperkaya pengetahuannya dengan memanfaatkan keterbukaan yang dimiliki…

Re: Banyak Dirut Cuek Soal Software Bajakan

Sedikit ngomentari artikel dari detikinet: Banyak Dirut Cuek Soal Software Bajakan “Biasanya pimpinan perusahaan kaget kalau dituduh memakai software bajakan. Mereka biasanya bilang tidak tahu-menahu soal instalasi software di perusahaan, karena itu biasa ditangani bagian TI,” papar Komisaris Besar Polisi Unit INDAGBARESKRIM Polri, Dr. Edi Wardojo. Memang begitu deh resikonya orang IT, mo dibilang apa? Padahal si BOS giliran dimintain budget buat pemeliharaan IT ngeluarin duitnya rada-rada seret alasan ini alasan itu, giliran dimintain pertanggungjawaban soal make software bajakan pura…

Pisau bermata dua, MSRA

MSRA bak pisau bermata dua, disatu sisi MSRA dibuat oleh Microsoft untuk meringankan perusahaan maupun perorangan yang berniat ‘menyewakan’ produk Microsoft baik itu Ms Windows, Ms Office dan lainnya kepada konsumen mereka. Namun di satu sisi lagi MSRA dibuat secara buru-buru dan tanpa kejelasan komando di dalam perusahaan Microsoft sendiri, sehingga muncul kesan miring seolah-olah Raksasa Software ini hanya ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan memanfaatkan moment sweeping yang sedang gencar dilakukan saat ini. Keplin-plan-an Microsoft ini muncul kepermukaan setelah pernyataan…