Indonesia Linux Conference, Oasis di padang tandus

Apabila kita bicara tentang Linux di Indonesia, pasti yang terpikirkan pertama kali adalah gerakan komunitasnya. Karena perkembangan Linux di Indonesia tidak lepas dari soliditas yang dimiliki oleh komunitas komunitas pengguna Linux di Indonesia. Baik pengembang, tukang koar-koar ataupun pengguna end-user saling bahu membahu memperkenalkan open source dengan caranya masing-masing.

Di tiap kota, di tiap daerah komunitas seolah berlomba (dalam konotasi positif tentunya) untuk menunjukkan geliatnya. Ambil contoh KPLI Keresidenan Banyumas, walaupun sempat tertimpa masalah adanya pihak luar yang mencoba “bermain” dengan memberikan presepsi salah kepada masyarakat bahwa “Mikrosop adalah Open Source” namun hal ini tidak membuat perjuangan mereka surut. Dalam waktu singkat mereka berhasil membersihkan presepsi salah yang diterima masyarakat tersebut dengan melakukan roadshow kepada guru-guru yang terlanjur sempat di “cuci otak” oleh oknum yang memanfaatkan situasi kurangnya komunikasi antara komunitas dengan pemerintah di masing-masing daerah.

Ambil contoh lain, KPLI Aceh Tengah (Pelita, Pengguna Linux Takengon) yang sukses menjadi mitra pemda Aceh Tengah untuk membantu proses migrasi di daerahnya. KPLI Bekasi (BeLL, Bekasi Linux Lover), KPLI Sinjai, bahkan tidak terbatas hanya komunitas yang bernaung dibawah bendera KPLI saja, masih banyak komunitas lain seperti AOSI (Asosiasi Open Source Indonesia), AWALI (Asosiasi Warnet Linux & Open Source Indonesia), Komunitas Pengguna Ubuntu, Komunitas Zencafe, Komunitas BlankOn, Komunitas Open Suse, Komunitas Study Linux, dan lain-lain.

Bukan berarti pergerakan komunitas pengguna Linux di Indonesia tidak mengalami hambatan ataupun rintangan. Cukup banyak pula komunitas pengguna Linux yang akhirnya mati suri kalau tidak ingin dikatakan gulung tikar. Resistensi yang kadang di hadapi baik oleh pemerintah di daerahnya ataupun dari masyarakat itu sendiri.

Indonesia Linux Conference (ILC), sebuah kegiatan pertemuan rutin tahunan dimana salah satu rangkaiannya adalah Linux Community Meeting (LCM) menjadi tempat untuk saling berbagi, untuk saling memberi dari komunitas untuk komunitas. Komunitas yang sukses membagi pengalamannya agar siapa tau bisa di tiru oleh komunitas yang lain, sedangkan komunitas yang menghadapi kendala membagi pengalamannya untuk dipecahkan bersama. Idealnya ILC adalah oasis dipadang tandus, sebuah mata air yang dapat memenuhi dahaga dan dapat memberikan solusi untuk kepentingan bersama.

Tolak ukurnya bukanlah banyak tidaknya yang hadir di LCM, melainkan apakah ILC bisa menampung dan membawa aspirasi dari perwakilan-perwakilan komunitas Linux di masing-masing daerah, karena biar bagaimanapun, walapun sesuai kebutuhan jaman ILC telah mengalami pergeseran menjadi kegiatan yang luas (bukan sekedar LCM) namun khittahnya ILC lahir sebagai jawaban atas kebutuhan pergerakan komunitas Linux di Indonesia. Tidak hanya sebagai acara rame-rame ngumpul ngumpul ataupun ngerumpi tentang Linux, ataupun bukan pula hanya sebagai ajang seminar ataupun workshop melainkan sebuah jawaban yang dapat memberikan solusi dan semangat kepada pergerakan komunitas-komunitas pengguna Linux di masing-masing daerah cakupannya demi perkembangan pergerakan open source di Indonesia.

So, dukung Indonesia Linux Conference 2011 yang rencananya akan diadakan di Nusa Tenggara Barat bisa membawa ILC sesuai khittah nya, menjadi sebuah jawaban atas permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam hal memajukan open source di Indonesia yang kita cintai. Wassalam.

2 thoughts on “Indonesia Linux Conference, Oasis di padang tandus

  1. Black_Claw Reply

    Oke, jadi yang fix datang selain Adi Internux adalah Anjar Hardybuntu. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *